JARI-JEMARI TUHAN


Berguru Kepada IBLIS (Part 4)
—————

Alif sudah terlanjur saya sebut sebagai ALLOH (1), Lam sebagai ILMU (3). Maka Raa bisa saya sebut sebagai RABB (1). Jika pengkodean ini benar adanya, mestinya angka-angka QS. Yunus ayat 1 bisa menghasilkan kode 131. Kode ini merupakan peringatan: “Bahwa ILMU (3) itu bukanlah untuk MENUHANKAN (1) selain ALLOH (1). Tetapi untuk mencari jalan TERANG / SELAMAT (5) menuju dan berjumpa dengan TUHAN (1). Atau bahwa ILMU (3) itu sarana / media menuju TUHAN (1) dengan SELAMAT (5).” Kode 131 berubah wujud menjadi 315.

Di dalam jari-jemari Manusia itu ada kehendak TUHAN

Ternyata, manusia itu tidak mungkin bisa melepaskan diri dari Agama, itu mustahil. Ketika mulut akan bicara misalnya, yang namanya mulut saja sudah berkait erat dengan agama, bicara itu sendiri bisa diartikan sebagai kalam, dan kalam itu bahasa agama. Lalu, apa sebenarnya agama itu? Agama berasal dari bahasa Sansekerta (a = tidak; gama = kacau; agama = tidak kacau, dalam cara pandang saya adalah 123 yakni NORMA / ADAB / ILMU (3) yang mengatur hubungan hakiki antar MAKHLUK (2) dengan SANG PENCIPTA (1). Menurut informasi pada https://id.wikipedia.org/wiki/Agama, bahwa ada sekitar 4200 agama di dunia. Jika angka pada bilangan ini diurutkan dari kecil ke besar kemudian dijumlahkan = 0024 = 0+0+2+4 = 6 | Tiga (3) angka terakhir = 246 | Dilanjutkan 2+4+6 = 12 = 3 | Tiga (3) angka terakhir = 123 = KETUHANAN (godliness). Apakah ini hanya kebetulan saja?

Sifat / Karakter Angka

1 = Alloh, Tuhan, Ihsan, Tunggal, Sang Pencipta;
2 = Makhluk, Manusia, Hamba, Abdi, Patuh, Tunduk, Sujud, Jiwa/Ruh;
3 = Ilmu, Kehendak, Norma, Sopan Santun, Tatakrama, Adab, Petuah, Nasihat;
4 = Iblis, Gelap, Problematika Kehidupan; Pembangkangan, Keterpaksaan
5 = Islam, Terang, Selamat;
6 = Iman, Ghaib;
7 = Kalam, Kata-kata, Kitab, Sempurna, Malaikat, Dzikr, Pintu Neraka;
8 = Langit dan Bumi, Alam Semesta, Harta Dunia, Pintu Surga, Jasad;
9 = Ulama, Ilmuwan, Sombong, Angkuh, Perkasa, Akhirat;
0 = Hening, Suwung, Puasa, Tirakat, Lapar, Sabar, Tawakkal, Syukur, Ikhlas.

Jari-Jemari Tangan dan Kaki Manusia

Angka 0, 1, dan 5 juga bisa memiliki sifat / karakter:
0 = Mati, Tidak Ada; Tidak Bernyawa, Binasa;
1 = Hidup, Ada, Bernyawa, Kekal Abadi;
5 = Realitas Kehidupan.

Jari Tangan dan Kaki Manusia

Jari Tangan dan Kaki Manusia. Sumber gambar ini dapat Saudaraku lihat pada Referensi di bawah. Saya tertarik mengamati penomoran 8 pada jari tangan, ia terletak di jari tengah sekaligus ruas yang tengah. Jika 8 itu dikaitkan dengan angka umur tentunya jatuh pada 40. Bukankah jika ditambahkan = 8+40 = 48  |  48 = 4+8 = 12  |  12 = 1+2 = 3  |  Tiga (3) angka terakhir = 123. Apakah ini kebetulan?

Kode 5 pada diri manusia itu nampak jelas pada 4 x 5 jari-jemari tangan dan kaki = 20, maka Manusia (2) itu pada hakikatnya Tidak Ada / Mati (0). Tetapi mengapa banyak diantara manusia masih saja merasa hidup bahkan tidak jarang suka sombongkan diri?

Jika perhitungan 4 x 5 = 20 ini dilanjutkan = 2+0 = 2 | Tiga (3) angka terakhir = 202. Kode ini bisa saya baca: “MANUSIA (2) yang sadar atas ketidakberdayaannya akan mengantarkan mereka menjadi pribadi yang SABAR, TAWAKKAL, SYUKUR, IKHLAS, TIRAKAT / PUASA (0), dan manusia yang demikian itulah yang pantas menyandang predikat sebagai MANUSIA / ABDI / HAMBA (2) yang sebenarnya”. Inilah yang sebaiknya selalu harus dijaga dalam setiap denyut nadi kita sehari semalam 24 jam. Bukankah 202 jika angka-angkanya dijumlahkan = 2+0+2 = 4 | Tiga (3) angka terakhir = 024 alias 24? Apakah Saudaraku kira perhitungan ini hanya lelucon belaka? Mari sama-sama kita renungkan!

Masih penasaran? Kode 024 jika angka-angkanya dijumlahkan = 0+2+4 = 6 | Tiga (3) angka terakhir = 246. Kode ini bisa dimengerti: “Ketika MANUSIA (2) bisa menyikapi segala PROBLEMATIKA HIDUP (4) dengan legawa yakni sabar, tawakkal, ikhlas, dan seterusnya, maka mereka pasti akan mendapatkan IMAN (6)”. Mereka segera menyadari bahwa semua itu sebenarnya merupakan ILMU (3) dan karenanya setiap masalah itu bisa diselesaikan dengan berserah diri SUJUD (2) kepada-NYA (1). Bukankah 246 jika angka-angkanya dijumlahkan = 2+4+6 = 12 = 3 | Tiga (3) angka terakhir = 123? Sampai perhitungan ini ternyata di dalam jari-jemari kita itu tersirat makna yang cukup dalam utamanya bagi mereka yang mau berfikir.

Lima (5) deret hitung terhadap 4 x 5 jari-jemari tangan dan kaki = 20 = 2+0 = 2 adalah sebagai berikut:
1. 202 = 4 = IBLIS / PROBLEMATIKA KEHIDUPAN;
2. 024 = 6 = IMAN / GHAIB;
3. 246 = 12 = 3 = ILMU / NORMA / ADAB;
4. 123 = 6 = IMAM / GHAIB;
5. 236 = 11 = 2 = HAMBA / ABDI / MANUSIA / SUJUD | Tiga (3) angka terakhir = 112.

Kode 112 ini merupakan kode peringatan bagi manusia sehingga bisa dibaca: “Wahai MANUSIA (2), janganlah menyembah TUHAN (1) selain ALLOH (1)”. Jika kode ini kita kaitkan dengan ayat Al-Qur’an bisa dilihat pada QS. Hud/11 ayat 2.

أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ ۚ إِنَّنِي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ

Ajari dan arahkanlah manusia, wahai Nabi, dengan al-Qur’ân. Katakan pada mereka, “Janganlah kalian menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk memberi peringatan kepada kalian akan azab yang ditimpakan jika kalian mengingkari-Nya. Sebagaimana aku pun diutus untuk menyampaikan kabar gembira akan pahala yang kalian dapatkan bila kalian mengimani dan menaati-Nya. (QS. Hud/11 : 2 – Tafsir Muhammad Quraish Shihab)

Perhatikan pula angka-angka pada deret ke-5 di atas! Jika angka-angka tersebut disatupadu-urutkan (dimana angka yang sama dilebur / ditulis satu kali) = 12356 | Dijumlahkan = 1+2+3+5+6 = 17 = Jumlah rekaat sembahyang wajib dalam Ajaran 5 (ISLAM). Perhatikan pula bahwa QS. Hud/11 itu ada di dalam Juz 11 dan 12 sejumlah 123 Ayat. Jika kita ingin melihat spirit yang terkandung pada ayat tertentu dalam hal ini ayat 2, maka dapat dilakukan perhitungan = 11 + (11+12) + 123 + 2 = 159 | Dijumlahkan = 1+5+9 = 15 = 6 | Tiga (3) angka terakhir = 156 = KEISLAMAN (way of life) = 1 / IHSAN; 5 / ISLAM; dan 6 / IMAN. Apakah ini hanya kebetulan? Memangnya adakah kejadian di muka bumi ini yang hanya kebetulan saja? Masa iya, ALLOH telah tetapkan sedemikian rupa pengkodean angka-angka dalam Al-Qur’an itu tanpa ada maksud?

Jika Saudaraku masih belum yakin bahwa 202 itu memang telah menjadi ketetapan-Nya yang itu terkait erat dengan kode 112, silahkan dibuka QS. Taa-Haa/20 ayat 2. Surat ini ada di Juz 16 sejumlah 135 Ayat. Jika angka-angkanya kita jumlahkan = 20 + 2 + 16 + 135 = 173 | Angka hasil dijumlahkan = 1+7+3 = 11 = 2 | Tiga (3) angka terakhir = 112. Apakah ini juga hanya kebetulan? Surat 20 ayat 2 ini menjelaskan tentang kasih sayang Tuhan kepada manusia sebab Tuhan tahu bahwa manusia itu memang makhluk yang tidak berdaya.

مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ

(Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu) hai Muhammad (agar kamu menjadi susah) supaya kamu letih dan payah disebabkan apa yang kamu kerjakan sesudah ia diturunkan, sehingga kamu harus berkepanjangan berdiri di dalam melakukan salat malam. Maksudnya berilah kesempatan istirahat bagi dirimu. (QS. Taa-Haa/20 : 2 – Tafsir Jalalayn)

Kode 202 versi Imam as-Syafi’i

Tentang ini Saudaraku bisa melihat di artikel Indonesia dan Iblis dalam Al-Qur’an pada bagian catatan Tujuh (7) Huruf Hijaiyah Terbanyak. Tetapi jika Saudaraku tidak mau pergi ke sana, di bawah ini saya tampilkan kembali.

No. 1 2 3
Nama Huruf Alif Lam Mim
ا ل م
Jumlah 48740 33922 28922
Total 123
111584
20
2

Imam Syafi’e dalam kitab Majmu al Ulum wa Mathli ’u an Nujum dan dikutip oleh Imam Ibn ‘Arabi dalam mukaddimah al-Futuhuat al Ilahiyah menyatakan jumlah huruf-huruf dalam Al-Qur’an diurut sesuai dengan banyaknya. (Sumber: https://www.instagram.com/p/-xEedSErn5/)

Tiga huruf terbanyak adalah alif, lam, dan mim. Seperti nampak pada tabel di atas, total ketiga huruf ini  = 111584  |  Angka-angkanya dijumlahkan = 1+1+1+5+8+4 = 20  |  20 = 2+0 = 2  |  Tiga (3) huruf terakhir = 202 = MANUSIA PENYABAR & TAWAKKAL (human patient and trust). Mereka yang penyabar dan tawakkal itu mestinya tahu benar bahwa HIDUP (1) dan MATI (0) itu hanya milik ALLOH (1) semata. Jika memang demikian, kode 111584 seharusnya bisa memberikan jawabannya. Kode ini menurut saya bisa dikaitkan dengan QS. Hud/11 : 15 dan atau 84, pada Juz 11 dan 12, Sejumlah 123 Ayat. Mari sama-sama kita perhatikan:

  • مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ
    —————
    (Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya) seumpamanya ia tetap bersikeras dalam kemusyrikannya. Menurut suatu pendapat ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang berbuat ria atau pamer (niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaannya dengan sempurna) pembalasan dari amal baik yang telah dikerjakannya, seperti sedekah dan bersilaturahmi (di dunia) umpamanya Kami meluaskan lapangan rezeki mereka (dan mereka di dalamnya) yakni di dunia (tidak dirugikan) artinya tidak akan dikurangi sedikit pun balasannya. (QS. Hud/11 : 15 – Tafsir Jalalayn)
    —————
    Makna tersirat: 11 + (11+12) + 123 + 15 = 172 | Angka hasil dijumlahkan = 1+7+2 = 10 = 1 | Tiga (3) angka terakhir = 101 = KARAKTER DASAR IBLIS (the basic character of the devil). Jangan pernah beranggapan Iblis tidak tahu bahwa HIDUP (1) dan MATI (0) itu hanya milik-NYA (1). Justru karena Iblis tahu benar akan hal ini, maka digodalah manusia melalui iming-iming gemerlapnya kehidupan dunia, hingga akhirnya manusia menjadi lupa akan 101.
    —————
  • وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ وَلَا تَنقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ۚ إِنِّي أَرَاكُم بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُّحِيطٍ
    —————
    (Dan) Kami utus (kepada penduduk Madyan saudara mereka Syuaib. Ia berkata, “Hai kaumku! Sembahlah Allah) tauhidkanlah Dia (sekali-kali tiada Tuhan bagi kalian selain Dia. Dan janganlah kalian kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kalian dalam keadaan yang baik) kalian hidup dalam keadaan yang menyenangkan sehingga kalian tidak perlu melakukan pengurangan takaran dan timbangan (dan sesungguhnya aku) (khawatir terhadap kalian) jika kalian tidak mau beriman (akan azab hari yang membinasakan”) hari yang meliputi kalian dengan kebinasaan. Lafal yaum disifati dengan lafal muhith mengandung pengertian majaz, karena terjadinya azab itu pada hari tersebut. (QS. Hud/11 : 84 – Tafsir Jalalayn)
    —————
    Makna tersirat: 11 + (11+12) + 123 + 84 = 241 | Angka hasil dijumlahkan = 2+4+1 = 7 | Tiga (3) angka terakhir = 417 = MENGHALANGI HATI MANUSIA DARI HIDAYAH TUHAN (blocking the human heart of the guidance of God). Mereka yang suka mengurangi takaran dan timbangan ada kemungkinan akan terhalang dari hidayah-NYA, mereka telah terperangkap tipu daya IBLIS (4) sehingga lupa terhadap KALAM (7) TUHAN (1).
    —————

Perhatikan makna tersirat kedua ayat di atas = 101 + 417 = 518, kode ini bisa saya baca: “Berhati-hatilah! Barang siapa hendak mencari SELAMAT / ISLAM (5), maka bersama itu pula TUHAN (1) pasti akan mengujinya melalui kesenangan DUNIA (8). Bersama itu pula, IBLIS (4) akan mengerahkan tipu muslihatnya agar manusia lupa atas KALAM (7) TUHAN (1). Hingga pada titik akhir bisa berakibat manusia menjadi lupa pula bahwa HIDUP (1) dan MATI (0) itu hanyalah milik-NYA (1)”.

Jika kode 518 ingin dikaitkan dengan KEINDONESIAAN (Majapahit 1293), maka kita bisa cermati dalam QS. Al-Maaida/5 : 81, yang terdapat di Juz  6 dan 7, Sejumlah 120 Ayat sebagai berikut:

وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَٰكِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

Jika akidah mereka dalam mengimani Allah dan rasul-Nya, Muhammad, serta al-Qur’ân yang diturunkan kepadanya itu benar, niscaya keimanan itu akan dapat mencegah mereka dari menolong orang-orang kafir dalam melawan orang-orang Mukmin. Akan tetapi kebanyakan Banû Isrâ’îl berbuat maksiat dan keluar dari agama. (QS. Al-Maaida/5 : 81 – Tafsir Muhammad Quraish Shihab)

Angka-angka ayat ini jika dijumlahkan = 5 + (6+7) + 120 + 81 = 219  |  Angka hasil dijumlahkan = 2+1+9 = 12 = 3  |  Tiga (3) angka terakhir = 123 = Nomor urut huruf ALIF-LAM-MIM seperti telah dijelaskan di atas. Tetapi jika kita ambil empat (4) angka terakhir = 9123, kode ini jika diacak bisa menghasilkan kode 1293 = Tahun Lahirnya MAJAPAHIT.

Memahami AKU di dalam Diri

Musuh manusia itu dalam cara pandang saya bukanlah sesama manusia, musuh manusia bukan pula napsu. Musuh manusia juga bukan Jin / Iblis maupun sebangsanya. Tetapi musuh manusia itu KEAKUAN yang melekat kuat pada dirinya. Hal tersebut bisa ditunjukkan pada perilaku kita baik sadar maupun tidak dengan mengatakan misalnya: “Itu pacarku, itu istri/suamiku, itu anakku, itu rumahku, itu mobilku, atau bahkan ada juga itu sepiaku. Dan anehnya bahwa itu kita lakukan / katakan dengan penuh keyakinan”.

Berhati-hatilah Saudaraku, perilaku yang demikian itu sebenarnya ada dalam wilayah “MANUSIA (2) yang MENUHANKAN (1) selain ALLOH (1)”. Saya tidak mengatakan: “ITU DOSA / DILARANG!”. Mungkin untuk ukuran manusia pada umumnya, kata-kata seperti itu memang diperlukan yang salah satu fungsinya untuk membedakan atau melindungi hak KEPEMILIKAN yang menjadi tanggungjawab masing-masing. Namun ketika kita bicara masalah KEPEMILIKAN, munculah pertanyaan: “Pantaskah manusia itu merasa MEMILIKI terhadap sesuatu sedang dirinya sendiri tidak tahu SIAPA DIRINYA?”.

Manusia sering mengatakan AKU. Tetapi ketika disuruh menunjukkan eksistensi AKU di dalam dirinya tidak akan pernah mampu. Mereka menunjuk tubuh / anggota tubuh dan mengatakan: “Inilah AKU”. Jika yang sedang ditunjuk itu dada misalnya, bukankah itu dadanya AKU (dadaku)? Lalu mereka menunjuk anggota tubuh yang lain, kepala misalnya. Bukankah itu kepala AKU? Dan seterusnya dan sebagainya.

Lalu AKU-nya sendiri itu yang mana? Tidak ada manusia yang tahu. Sekalipun manusia mengatakan AKU itu ya nafas ini, ya hati ini, ya perasaan ini, ya jiwa ini, ya nyawa ini, ya ruh ini. Bahwa semua itu bukanlah AKU melainkan miliknya AKU. Nafasku, hatiku, perasaanku, jiwaku, nyawaku, ruhnya AKU. Sedang AKU-nya sendiri, sekali lagi jangankan manusia, Iblis pun juga tidak tahu. Bahkan Malaikat sekalipun juga tidak tahu. Sebab AKU itu sesuatu yang dalam bahasa KALAM bisa disebut GHAIB (tidak nampak oleh panca indera).

Jika AKU itu yang memiliki segala sesuatu dan GHAIB, maka AKU bisa berarti TUHAN. Sebab Tuhan itu ghaib bahkan Maha GHAIB. Sampai pengertian di sini, berhati-hatilah dalam mencernanya. Kesalahan dalam mencerna bisa berakibat / menjadikan manusia MENUHANKAN dirinya sendiri. Dan pada kenyataannya, itulah yang sering terjadi pada diri manusia tanpa manusia itu menyadarinya: “Mengatakan milikku dengan melalaikan / mengesampingkan keberadaan-Nya. Padahal sejatinya pemilik itu adalah Tuhan semata bukan makhluk”. Inilah yang saya maksud KEAKUAN sebagai musuh manusia. Maka alangkah baiknya ketika kita mengatakan kepemilikan sesuatu itu dibarengi pula dengan keyakinan: “Sesungguhnya semua itu adalah milik-Mu yang Engkau kuasakan kepada hamba. Dan hamba pun tidak memiliki kuasa atas sesuatu itu karena hamba ini pun juga milik-Mu”.

Ayat-ayat Terkait KEAKUAN

  • QS. Al-Baqara (Juz 1, 2, 3; Surat ke 2; Ayat ke 7)
    —————
    خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
    —————
    Mereka adalah golongan yang telah dikuasai oleh sikap ingkar (kufr), hingga hati mereka seolah tertutup oleh sekat yang tidak akan pernah dimasuki sesuatu pun. Pendengaran mereka terkunci, hingga tak sanggup mendengarkan kebenaran. Penglihatan mereka terhalang, hingga tak mampu melihat tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang akan menuntun kepada keimanan. Oleh sebab itulah mereka pantas menerima siksa yang keras. (QS. Al-Baqara/2 : 7 – Tafsir Muhammad Quraish Shihab)
    —————
    Dari ayat ini kita bisa ambil pelajaran bahwa hati (qolbu) itu bisa membawa manusia kepada kegelapan manakala hati tersebut telah dikuasai oleh sikap ingkar atas kekuasaan Tuhan.
  • QS. Yusuf (Juz 12, 13; Surat ke 12; Sejumlah 111 Ayat)
    —————
    وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ
    —————
    (“Dan aku tidak membebaskan diriku) dari kesalahan-kesalahan (karena sesungguhnya nafsu itu) yaitu hawa nafsu (selalu menyuruh) banyak menyuruh (kepada kejahatan kecuali orang) lafal maa di sini bermakna man, yaitu orang atau diri (yang diberi rahmat oleh Rabbku) sehingga terpeliharalah ia dari kesalahan-kesalahan. (Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”). (QS. Yusuf/12 : 53 – Tafsir Jalalyn)
    —————
    Ayat di atas dengan sangat jelas memberitahu kita bahwa napsu itu pada satu sisi adalah musuh, namun di sisi yang lain merupakan teman (bukan musuh) dalam kalimat: “Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Rabbku”.
  • QS. Al-‘Araaf (Juz 8, 9; Surat ke 7, Sejumlah 206 Ayat)
    —————
    وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
    —————
    (Dan) ingatlah (ketika) sewaktu (Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka) menjadi badal isytimal dari lafal sebelumnya dengan mengulangi huruf jar (yaitu anak cucu mereka) maksudnya Dia mengeluarkan sebagian mereka dari tulang sulbi sebagian lainnya yang berasal dari sulbi Nabi Adam secara turun-temurun, sebagaimana sekarang mereka beranak-pinak mirip dengan jagung di daerah Nu`man sewaktu hari Arafah/musim jagung. Allah menetapkan kepada mereka bukti-bukti yang menunjukkan ketuhanan-Nya serta Dia memberinya akal (dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka) seraya berfirman, (“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul.) Engkau adalah Tuhan kami (kami menjadi saksi.”) yang demikian itu. Kesaksian itu supaya (tidak) jangan (kamu mengatakan) dengan memakai ya dan ta pada dua tempat, yakni orang-orang kafir (di hari kiamat kelak, “Sesungguhnya kami terhadap hal-hal ini) yakni keesaan Tuhan (adalah orang-orang yang lalai.”) kami tidak mengetahuinya. (QS. Al-‘Araaf/7 : 172 – Tafsir Jalalyn)
    —————
    Ayat ini menunjukkan dialog antara Tuhan dengan Jiwa / Ruh ciptaan-Nya dalam kalimat: “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, Betul. Engkau adalah Tuhan kami (kami menjadi saksi)”. 
  • QS. Al-Baqara (Juz 1, 2, 3; Surat ke 2; Sejumlah 286 Ayat)
    —————
    وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
    —————
    (Segolongan orang-orang bertanya kepada Nabi saw., “Apakah Tuhan kami dekat, maka kami akan berbisik kepada-Nya, atau apakah Dia jauh, maka kami akan berseru kepada-Nya.” Maka turunlah ayat ini. (“Dan apabila hamba-hamba-Ku menanyakan kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Maha Dekat) kepada mereka dengan ilmu-Ku, beritahukanlah hal ini kepada mereka (Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa, jika ia berdoa kepada-Ku) sehingga ia dapat memperoleh apa yang dimohonkan. (Maka hendaklah mereka itu memenuhi pula perintah-Ku) dengan taat dan patuh (serta hendaklah mereka beriman) senantiasa iman (kepada-Ku supaya mereka berada dalam kebenaran.”) atau petunjuk Allah. (QS. Al-Baqara/2 : 186 – Tafsir Jalalyn)
  • QS. Qaaf (Juz 26; Surat ke 50; Sejumlah 45 Ayat)
    —————
    وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
    —————
    (Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia sedangkan Kami mengetahui) lafal Na’lamu ini berkedudukan menjadi Hal atau kata keterangan keadaan dan sebelumnya diperkirakan adanya lafal Nahnu (apa) huruf Maa di sini adalah Mashdariyah (yang dibisikkan) dibicarakan (oleh dia) yakni oleh manusia, huruf Ba di sini adalah Zaidah, atau untuk Ta’diyah (dalam hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya) maksudnya ilmu Kami (daripada urat lehernya) Idhafah di sini mengandung makna Bayan atau untuk menjelaskan, dan pengertian yang dimaksud dari lafal Al-Wariid adalah dua urat vital yang terdapat pada bagian belakang leher. (QS. Qaaf/50 : 16 – Tafsir Jalalyn)
  • QS. Al-Waaqia (Juz 27, Surat ke 56; Sejumlah 96 Ayat)
    —————
    وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَٰكِن لَّا تُبْصِرُونَ
    —————
    Bukankah ketika nyawa salah seorang di antara kalian telah sampai di kerongkongan, pada saat-saat sekarat, dan pada saat itu kalian sendiri menyaksikannya, sedang Kami lebih dekat dan lebih tahu tentang keadaanya, tetapi kaian tidak mengetahui dan merasakannya? (QS. Al-Waaqia/56 : 85 – Tafsir Muhammad Quraish Shihab)
    —————
    Dari ayat-ayat di atas memberitahu kita lebih jelas bahwa keberadaan AKU dalam arti TUHAN pada diri manusia itu adalah benar adanya tetapi bukan dzat-Nya melainkan ILMU-NYA dalam kalimat seperti: “Kami lebih dekat kepadanya (maksudnya ilmu Kami) daripada urat lehernya”. Ini  logis, sebab TUHAN itu mustahil bertempat tinggal / menempati wadah. Tetapi ILMU ALLOH itu meliputi segala sesuatu.
    —————

    • QS. Ghaafir (Juz 24; Surat ke 40; Sejumlah 85 Ayat)
      —————
      الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ
      —————
      Malaikat-malaikat yang memikul dan mengelilingi arasy senantiasa bertasbih menyucikan Tuhan, Pemilik dan Pemelihara mereka, dari segala bentuk kekurangan, dibarengi dengan puji-pujian. Mereka semua beriman kepada-Nya dan memohonkan ampunan bagi orang-orang Mukmin sambil berkata, “Ya Tuhan kami, sungguh kasih sayang-Mu amat luas, mencakup segala sesuatu, dan ilmu-Mu meliputi semua yang ada, maka ampunilah dosa orang-orang yang kembali kepada-Mu dan mengikuti jalan-Mu, dan jauhkan mereka dari azab neraka.” (QS. Ghaafir/40 : 7 – Tafsir Muhammad Quraish Shihab)
      —————
    • QS. At-Talaaq (Juz 28, Surat ke 65; Sejumlah 12 Ayat)
      —————
      اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا 
      —————
      (Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi) tujuh lapis bumi. (Turunlah perintah) wahyu-Nya (di antaranya) di antara langit dan bumi, malaikat Jibril turun dari langit yang ketujuh hingga ke bumi lapis tujuh (agar kalian mengetahui) lafal lita’lamuu bertaalluq kepada lafal yang tidak disebutkan, yakni Allah memberi tahu kepada kalian akan hal tersebut, yaitu mengenai masalah penciptaan dan penurunan wahyu-Nya (bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu). (QS. At-Talaaq/65 : 12 – Tafsir Jalalayn)

Mencoba merenungkan ayat-ayat terkait KEAKUAN di atas (dalam pandangan saya). Kita peroleh informasi bahwa sejatinya manusia itu dikatakan ADA / WUJUD disebabkan / dikarenakan:

  • RABB / TUHAN / ALLOH (1) sebagai Sang Pencipta;
    • JIWA / NYAWA / RUH / HAMBA (2) sebagai ciptaan-NYA;
      • ILMUNYA (3) sebagai bagian kekuatan / kehendak TUHAN yang menyatu dengan RUH, meliputi:
        • Hati / Qolbu (قلب );
        • Akal / ‘Aqli ( عقل );
        • Nafsu / Nafsun ( نفس );
          —————
          Disamping hati, akal, dan nafsu ini, ada ILMU TUHAN yang lain yang menyatu tidak menyatu dengan RUH yakni:

          • Alam Semesta / Fisik / Jasad (8);
          • Iblis / Setan (4);
          • Kalam / Malaikat (7).
            —————

Iblis (4) dan Malaikat (7) sebagai bagian dari unsur DIRI manusia bisa Saudaraku baca pada ulasan Indonesia dan Iblis dalam Al-Qur’an. Sedang Jasad / Fisik (8) sebagai salah satu bagiannya juga, saya pikir tidak ada yang mempermasalahkannya. Bukankah jasad / fisik manusia itu terbentuk dari unsur Alam Semesta (Api, Angin, Air, dan Tanah)?

Berbeda dengan Hati, Akal, dan Nafsu yang selalu bersama dengan RUH. Unsur Iblis, Malaikat, dan Jasad pada diri manusia menyatu tidak menyatu dalam arti tidak selalu bersama dengan RUH. Ketika manusia meninggalkan dunia ini (mati/wafat) mereka harus berpisah, sementara hati, akal dan nafsu tetap bersama RUH di alam penantian sampai tiba saatnya hari pembalasan dimana semua unsur diri akan dipertemukan kembali.

QS. Qaaf (Juz 26; Surat ke 50; Sejumlah 45 Ayat)

—————
وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيدٌ

—————
(Dan datanglah) pada hari itu (tiap-tiap diri) ke tempat mereka dikumpulkan yaitu padang Mahsyar (bersama dengan dia penggiringnya) yaitu malaikat yang menggiringnya ke padang Mahsyar (dan pemberi saksi) yang akan memberikan kesaksian tentang semua amal perbuatannya, yaitu tangan dan kakinya serta anggota-anggota tubuhnya yang lain. Kemudian pada saat itu dikatakan kepada orang yang kafir: (QS. Qaaf/50 : 21 – Tafsir Jalalayn)
—————
لَّقَدْ كُنتَ فِي غَفْلَةٍ مِّنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ
—————
(“Sesungguhnya kamu) sewaktu di dunia (berada dalam keadaan lalai dari hal ini) yang sekarang menimpa kamu (maka Kami singkapkan daripadamu tutupmu) maksudnya, Kami lenyapkan kelalaianmu dengan apa yang kamu saksikan sekarang ini (maka penglihatanmu pada hari ini tajam”) yakni menjadi terang dan dapat melihat apa yang kamu ingkari sewaktu di dunia. (QS. Qaaf/50 : 22 – Tafsir Jalalayn)
—————
قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَٰكِن كَانَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ
—————
(Yang menyertai dia berkata) yakni setannya mengatakan: (“Ya Rabb kami! Aku tidak menyesatkannya) kami tidak membuatnya sesat (tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh”) lalu kami mengajaknya dan ternyata ia memenuhi ajakanku. Sedangkan dia menjawab, “Setanlah yang menyesatkan aku”, yaitu melalui ajakannya. (QS. Qaaf/50 : 27 – Tafsir Jalalayn)

Sampai pembahasan ini, masalah KEAKUAN menjadi semakin jelas dimana dalam cara pandang saya bahwa AKU itu ada dua pengertian yakni 1. AKU (Tuhan / Rabb); dan 2. AKU (Hamba / Manusia). Dalam bahasa kode bahwa AKU = Tuhan = 1, sedangkan AKU = Manusia bersama dengan Saudaranya = 23478 (Ruh + Ilmu + Iblis + Malaikat) = 2+3+4+7+8 = 24. Jadi AKU dalam pengertian sebagai Hamba / Manusia itu = 24 yakni Ruh (2) yang dipenuhi dengan Iblis / Kegelapan / Problematika Kehidupan (4).

Jika kode 2 = Ruh (bagian inti pada diri manusia) itu benar adanya, dan pengkodean 4 = Iblis / Kegelapan / Problematika Kehidupan itu juga benar maka jelas sudah bahwa mereka itu bukanlah musuh melainkan Saudara atau teman kita. Hal ini mengingatkan saya pada petuah Al-Qadhi Ibn Ma’ruf rahimahullah, dalam buku Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali beliau berkata:

Berhati-hatilah terhadap musuhmu sekali
namun berhati-hatilah terhadap temanmu seribu kali
Bisa jadi temanmu itu berubah
dan dikenal paling berbahaya

Memahami Kode 24 lebih Dalam

Kalau direnungkan lebih dalam lagi, kode 24 itu harusnya bukan untuk manusia saja melainkan kode untuk seluruh ciptaan-Nya dan disebut oleh Tuhan sebagai KAMU yakni RUH (2) dengan segala PROBLEMATIKA (4) yang melekat padanya. Maka sekarang menjadi semakin jelas bahwa AKU itu = RABB / TUHAN / ALLOH (dalam istilah Jawa = GUSTI / PENGERAN / BENDARA = 1), sedang KAMU = HAMBA / ‘ABID (dalam istilah Jawa = KAWULA = 24).

Karena hubungan antara KAWULA dan GUSTI itu mustahil bisa dipisahkan maka untuk memahami kode 24 haruslah disatukan dengan kode 1 sehingga menjadi 124. Kode ini bisa dibaca: “Bahwa seluruh PROBLEMATIKA (4) yang melekat pada setiap JIWA / RUH (2) itu pada hakikatnya sudah menjadi KODRAT dan IRODAT / KEHENDAKNYA (1).”

Apabila 124 itu angka-angkanya dijumlahkan = 1+2+4 = 7, disatupadukan menjadi 1247. Dalam cara pandang saya, kode ini sangat terkait dengan penciptaan alam semesta QS. Fussilat/41 : 9, 10, 11, 12. Surat ini ada pada Juz 24 dan 25 sejumlah 54 ayat. Angka-angka ayat ini dijumlahkan = 54 + (25+24) + 41 + (12+11+10+9) = 186  |  Hasilnya dijumlahkan = 1+8+6 = 15  |  1+5 = 6  |  Tiga (3) angka terakhir = 156 = KEISLAMAN (way of life). Apakah ini hanya kebetulan saja?

Jika pengkodean ini benar adanya, sekarang kita menjadi tahu apa sebenarnya tujuan yang MAHA SATU (1) menciptakan HAMBA / MAKHLUK (24). Tujuan tersebut dalam cara pandang saya:

  1. TUHAN berkehendak menjukkan eksistensi-NYA (1);
  2. HAMBA yang telah diciptakan disuruh-NYA untuk SUJUD (2) menghamba hanya kepada-NYA. Untuk membedakan tingkat ketaatan diantara hamba-hambanya, TUHAN memberikan ujian berbagai macam PROBLEMATIKA (4) pada setiap diri hamba tanpa kecuali;
  3. Bagaimana tatacara SUJUD diatur dalam KALAM / KITAB (7) yang diwahyukan melalui hamba pilihan-NYA.

Atau jika 7 itu merupakan kode PINTU NERAKA, hal ini bisa dimengerti bahwa TUHAN berkehendak menunjukkan kuasa-NYA tidak main-main terhadap hamba-hamba yang MEMBANGKANG (4), bahwa di sanalah sebaik-baiknya balasan bagi mereka. Rupanya TUHAN (1) sedang mengingatkan RUH (2), bukankah 47 = 11 = 2?  | Tiga (3) angka terakhir = 112 = “Wahai RUH / MANUSIA (2), janganlah MENUHANKAN (1) selain ALLOH (1).”

Wahai Saudaraku, kode 1247 bisa juga dibaca: “Insya-Alloh semua HAMBA (24) itu berhak dan pasti mendapatkan SURGA, selama mereka menetapi Ajaran 1dengan sebenarnya. Sebab mereka itu ada dalam golongan orang-orang yang BERIMAN.” Bukankah 17 itu jika angkanya dijumlahkan = 1+7 = 8 = SURGA? Bukankah pula jika dicari selisihnya = 7-1 = 6 = IMAN? Ajaran 17 juga merupakan formula dari TUHAN (1) untuk meninggalkan KEGELAPAN (4) menuju TERANG (5). Hal ini bisa kita lihat pada QS. Taa-Haa (Juz 16; Ayat ke 20; Sejumlah 135 Ayat) pada ayat ke 14 sebagai berikut:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Aku adalah Allah, Tuhan Yang Mahaesa, tidak ada yang patut disembah selain Aku. Maka, berimanlah kepada-Ku dan sembahlah Aku serta dirikanlah selalu salat, agar kamu senantiasa mengingat-Ku. (QS. Taa-Haa/20 : 14 – Tafsir Muhammad Quraish Shihab)

Bukankah angka-angka ayat dijumlahkan = 16+20+135+14 = 185  |  Angka hasil dijumlahkan = 1+8+5 = 14  |  1+4 = 5  |  Tiga (3) angka terakhir = 145? Angka ini sama dengan jumlah ruas jari-jari tangan manusia = 14 = 1+4 = 5  |  Tiga (3) angka terakhir = 145. Kode ini jika diteruskan penjumlahannya = 1+4+5 = 10 = 1  |  Tiga (3) angka terakhir = 101. Kode ini bisa saya baca: Bahwa HIDUP (1) dan MATI (0) itu hanyalah milik ALLOH (1) semata.”

Bukankah 1247 jika angka-angkanya dijumlahkan = 1+2+4+7 = 14  |  1+4 = 5?  |  Tiga (3) angka terakhir juga 145. Apakah Saudaraku anggap hal ini hanya kebetulan saja? Ternyata tidak, AL-QUR’AN (7) itu memang benar-benar datang dari ALLOH (1) bukan buah tangan MAKHLUK (24). Perhatikan sekarang dengan seksama terkait kode 145 yakni QS. Ibrahim (Juz 13; Surat ke 14; Sejumlah 52 Ayat) pada ayat ke 5 sebagai berikut:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُم بِأَيَّامِ اللَّهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Sungguh, Kami telah mengutus Mûsâ dengan diperkuat oleh sejumlah mukjizat. Kami katakan kepadanya, “Keluarkan kaummu (Banû Isrâ’îl), dari gelapnya kekafiran dan kebodohan menuju terangnya cahaya keimanan dan ilmu pengetahuan! Ingatkan mereka akan kejadian dan bencana yang ditimpakan oleh Allah kepada bangsa-bangsa sebelum mereka! Dalam peringatan itu terdapat bukti-bukti kuat tentang keesaan Allah yang bisa mengajak kepada keimanan orang-orang yang selalu tabah menghadapi cobaan dan selalu bersyukur atas segala nikmat. Itulah sifat orang Mukmin. (QS. Ibrahim/14 : 5 – Tafsir Muhammad Quraish Shihab)

Angka-angka ayat di atas jika dijumlahkan = 13+14+52+5 = 84  |  Angka hasil dijumlahkan = 8+4 = 12 = 3  |  Tiga (3) angka terakhir = 123 = KETUHANAN (godliness). Bukankah Ajaran 17 itu ada di dalam 156 = KEISLAMAN (way of life)? Bukankah 156 jika angka-angkanya dijumlahkan = 1+5+6 = 12 = 3?  |  Tiga (3) angka terakhir = 123. Kemudian terkait kode 101 (Hidup dan Mati hanyalah milik Alloh) bisa dilihat pada QS. Yunus (Juz 11, Surat ke 10; Sejumlah 109 Ayat) pada ayat ke 1 sebagai berikut:

الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ

(Alif, laam, raa) hanya Allahlah yang mengetahui maksudnya. (Inilah) artinya ayat-ayat ini (ayat-ayat Alkitab) yakni Alquran. Diidhafatkan lafal ayaatul pada lafal Alkitab mengandung makna min, yakni bagian daripada Alquran (yang mengandung hikmah) yang padat akan hikmah-hikmah. (QS. Yunus/10 : 1 – Tafsir Jalalayn)

Alif sudah terlanjur saya sebut sebagai ALLOH (1), Lam sebagai ILMU (3). Maka Raa bisa saya sebut sebagai RABB (1). Jika pengkodean ini benar adanya, mestinya angka-angka ayat ini bisa menghasilkan kode 131. Kode ini merupakan peringatan: “Bahwa ILMU (3) itu bukanlah untuk MENUHANKAN (1) selain ALLOH (1). Tetapi untuk mencari jalan TERANG / SELAMAT (5) menuju dan berjumpa dengan TUHAN (1). Atau bahwa ILMU (3) itu sarana / media menuju TUHAN (1) dengan SELAMAT (5).” Sehingga kodenya berubah menjadi 315.

Angka-angka ayat ini jika dijumlahkan = 11+10+109+1 = 131  |  Angka hasil dijumlahkan = 1+3+1 = 5  |  Tiga (3) angka terakhir = 315 = ISLAM SEBAGAI ILMU TUHAN (Islam as the science of God). Jika perhitungan dilanjutkan = 3+1+5 = 9  |  Tiga (3) angka terakhir = 159 = ISLAM SEBAGAI BENTUK KASIH SAYANG TUHAN (Islam as a form of God’s love). Mengapa kode 159 saya bahasakan seperti itu? Bukankah dalam kode ini bahwa ISLAM (5) berada ditengah (diapit/dilindungi) oleh 19 = ( بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ) = “Kanthi hamemudji dhumateng ngarsa GUSTI ingkang maha WELAS maha ASIH.”

Jika Saudaraku masih belum yakin bahwa kode 315 itu memang telah menjadi ketetapan-Nya dan itu terkait erat dengan kode 101 = HIDUP (1) dan MATI (0) itu tetap kepunyaan ALLOH (1). Mari kita lihat ayat yang terkait erat dengan kode 315 yakni QS. Luqman/31 : 5 sebagai berikut:

أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

(Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung) yakni orang-orang yang memperoleh keberuntungan. (QS. Luqman/31 : 5 – Tafsir Jalalayn)

QS. Luqman ini ada di Juz 21, Surat ke 31; sejumlah 34 Ayat. Sehingga khusus ayat ke 5 bisa kita lihat makna yang tersirat dengan menjumlahkan angka-angkanya = 21+31+34+5 = 91  |  Angka hasil dijumlahkan = 9+1 = 10 = 1  |  Tiga (3) angka terakhir = 101. Maka ayat ini menjawab pertanyaan: “Siapakah sebenarnya orang-orang yang beruntung dan mendapatkan petunjuk dari Rabbnya?” Bisa dijawab: “Yakni mereka yang menyerahkan HIDUP (1) dan MATINYA (0) hanya kepada ALLOH (1) semata bukan yang lain.” Apakah hal ini Saudaraku anggap hanya lelucon belaka?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Maka dalam cara pandang saya, inilah intisari daripada Ajaran AKU = GUSTI = 1 dan KAMU = KAWULA = 24. Karena itu 24 jam sehari semalam itu adalah simbol RUH (2) dengan segala PROBLEMATIKA (4) yang melekat pada mereka adalah kehendak-NYA.. Karena itu 24 = 2+4 = 6 = IMAN itu juga ketetapan-NYA. Karena itu 124 = 1+2+4 = 7 = AL-QUR’AN adalah benar-benar wahyu-NYA. Dan karena itu marilah kita belajar dari IBLIS / PROBLEMATIKA (4) yang selalu menyertai kita semua:

  1. 124 = 1+2+4 = 7  |  Empat (4) angka terakhir = 1247 adalah KESEMPURNAAN PENCIPTAAN ALAM SEMESTA (perfection of creation of the universe). Atau bisa dibaca bahwa Ajaran 17 adalah benteng bagi 24 agar tidak keluar dari tujuan penciptaannya. Kode ini bisa terkait dengan ayat 17 QS. Ash-Shura (Juz 25; Surat ke 42; Sejumlah 53 Ayat) sebagai berikut:
    —————

    • اللَّهُ الَّذِي أَنزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ ۗ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ
      —————
      (Allahlah yang menurunkan Kitab) Alquran (dengan membawa kebenaran) lafal Bil Haqqi berta’alluq kepada lafal Anzala (dan neraca), keadilan. (Dan tahukah kamu) apakah kamu tahu (boleh jadi kiamat itu) yakni kedatangannya (sudah dekat?) lafal La’alla amalnya di-ta’alluq-kan kepada Fi’il dan lafal-lafal sesudahnya berkedudukan sebagai dua Maf’ul. (QS. Ash-Shura/42 : 17 – Tafsir Jalalayn)
      —————
      Makna tersirat: 53 + 42 + 25 + 17 = 137  |  Angka hasil dijumlahkan = 1+3+7 = 11 = 2  |  Tiga (3) angka terakhir = 112.
      —————
  2. 247 = 2+4+7 = 13 = 4  |  Empat (4) angka terakhir = 7134 = SHOLAT WAJIB LIMA WAKTU (the obligatory prayers five times a day). Bahwa Ajaran 17 itu adalah ILMU (3) untuk memerangi KEGELAPAN (4). Atau bisa juga dimengerti bahwa IBLIS (4) dan MALAIKAT (7) itu perwujudan ILMU (3) ALLOH (1). Biarkan Iblis dan Malaikat menjalankan tugasnya masing-masing, marilah kita jalankan tugas kita sendiri tanpa mengganggu mereka. Ingatlah QS. Al-Muzzammil/73 : 14 (Juz 29; Sejumlah 20 Ayat) sebagai berikut:
    —————

    • يَوْمَ تَرْجُفُ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيبًا مَّهِيلًا
      —————
      (Azab itu tetap berlaku) pada hari bumi dan gunung-ganang bergoncang (serta hancur lebur), dan menjadilah gunung-ganang itu timbunan pasir yang mudah bersepah. (QS. Al-Muzzammil/73 : 14 – Tafsir Adullah Muhammad Basmeih)
      —————
      Makna tersirat: 20 + 29 + 14 + 73 = 136  |  Angka hasil dijumlahkan = 1+3+6 = 10 = 1  |  Tiga (3) angka terakhir = 101.
      —————
      “Pada Al-Quran, akan anda temukan bahwa kata sujud yang dilakukan oleh mereka yang berakal disebutkan sebanyak 34 kali. Jumlah tersebut sama dengan jumlah sujud dalam shalat wajib yang dilakukan pada lima waktu sebanyak 17 rakaat. Pada setiap rakaat dilakukan dua kali sujud sehingga jumlahnya menjadi 34 kali sujud”. (Sumber: https://cesckid.wordpress.com/2011/01/16/kata-sujud-dalam-al-quran/)
      —————
  3. 134 = 1+3+4 = 8  |  Empat (4) angka terakhir = 1348 = PINTU SURGA (the gate of heaven). Atau bisa dibaca bahwa barang siapa yang dengan ILMUNYA (3) telah berhasil memerangi KEGELAPAN (4), maka ALLOH (1) pasti mempersilahkan mereka menempati SURGANYA (8), إن شاء الله. Jika kode 34 bisa dibaca sebagai SUJUD maka kode 1348 juga bisa diartikan: “Yang berhak mendapatkan PINTU SURGA (8) itu hanyalah mereka yang benar-benar SUJUD (34) kepada-NYA (1)”. Yang perlu dimengerti juga oleh kita bahwa kode 3 itu bisa diartikan pula sebagai SOPAN SANTUN / TATAKRAMA / ADAB. Jika ini ada benarnya maka kode 1348 bisa dikaitkan dengan QS. Saad/38 : 41, yang ada pada Juz 23 sejumlah 88 Ayat sebagai berikut:
    —————

    • وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ
      —————
      (Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika ia menyeru Rabbnya, “Sesungguhnya aku) bahwasanya aku (diganggu oleh setan dengan kepayahan) kemudaratan (dan siksaan”) yakni rasa sakit. Nabi Ayub menisbatkan atau mengaitkan hal tersebut kepada setan, sekalipun pada kenyataannya segala sesuatu itu berasal dari Allah swt. Dimaksud sebagai sopan santun Nabi Ayub terhadap Allah. (QS. Saad/38 : 41 – Tafsir Jalalayn)
      —————
      Makna tersirat: 88 + 23 + 41 + 38 = 190 | Angka hasil dijumlahkan = 1+9+0 = 10 = 1 | Tiga (3) angka terakhir = 101.
      —————
  4. 348 = 3+4+8 = 15 = 6 | Empat (4) angka terakhir = 8156 = PENGHUNI SURGA (the host). Atau bisa dibaca bahwa yang berhak menghuni SURGA (8) itu mestinya mereka yang IHSAN (1), ISLAM (5), dan IMAN (6). Bukan yang lain dan bukan pula seperti yang disebutkan dalam QS. Al-Mujaadila/58 : 16, Juz 28, Sejumlah 22 Ayat sebagai berikut:
    —————

    • اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ فَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ
      —————
      (Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai) untuk melindungi jiwa dan harta mereka (lalu mereka halangi) dengan sumpah mereka itu orang-orang mukmin (dari jalan Allah) untuk berjihad melawan mereka yang musuh dalam selimut itu, dengan cara membunuh mereka dan merampas harta benda mereka (karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan) siksaan yang membuat mereka hina. (QS. Al-Mujaadila/58 : 16 – Tafsir Jalalayn)
      —————
      Makna tersirat: 22 + 28 + 16 + 58 = 124 | Angka hasil dijumlahkan = 1+2+4 = 7 | Tiga (3) angka terakhir = 247.
      —————
  5. 156 = 1+5+6 = 12 = 3 | Empat (4) angka terakhir = 6123 = KEABADIAN (eternity). Atau bisa dibaca sebagai sebuah keadaan dimana yang MAHA GHAIB (6)  benar-benar menampakkan ILMUNYA (3) kepada mereka yang selalu SUJUD (2) kepada-NYA (1). Semua mimpi-mimpi kini benar-benar menjadi NYATA, ADA, dan ABADI selamanya. Jika perenungan ini ada benarnya, kita bisa mengkaitkannya dengan QS. Yusuf/12 : 36, Juz 12 dan 13, Sejumlah 111 Ayat sebagai berikut:
    —————

    • وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيَانِ ۖ قَالَ أَحَدُهُمَا إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا ۖ وَقَالَ الْآخَرُ إِنِّي أَرَانِي أَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِي خُبْزًا تَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْهُ ۖ نَبِّئْنَا بِتَأْوِيلِهِ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
      —————
      Bersama Yûsuf, masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda dari pelayan raja. Salah seorang di antara mereka berkata kepada Yûsuf, “Aku bermimpi memeras anggur untuk kujadikan khamar.” Yang lainnya berkata, “Aku bermimpi membawa roti di atas kepala, kemudian sebagian roti itu dimakan burung. Beritahulah kami, hai Yûsuf, takwil mimpi kami dan kesudahan nasib kami berdasarkan petunjuk mimpi itu. Sesungguhnya Kami sangat yakin bahwa kamu termasuk orang-orang yang mempunyai sifat baik dan kemampuan menakwil mimpi dengan baik.” (QS. Yusuf/12 : 36 – Tafsir Muhammad Quraish Shihab)
      —————
      Makna tersirat: 111 + (13+12) + 36 + 12 = 184 | Angka hasil dijumlahkan = 1+8+4 = 13 = 4 | Tiga (3) angka terakhir = 134.
      —————

Ayat-ayat lain Terkait Kode 1247

Jika kita bermaksud mengkaitkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan kode 1247, tentu akan memerlukan ulasan yang cukup panjang. Karena itu Saudaraku bisa melakukannya sendiri. Pada bahasan ini saya hanya akan menampilkan sebagian saja yang dapat Saudaraku lihat pada tabel di bawah ini.

No. Nama Surat Surat Juz Jml. Ayat Ayat Terkait Total
1. Al-Fatihaa 1 1 7 2 4 7 22
2. Al-Baqarah 2 1 2 3 286 1 4 7 306
3. An-Nisaa 4 4 5 6 176 1 2 7 205
4. Al-A’raaf 7 8 9 206 1 2 4 237
Total 14 14 16 9 675 5 12 25 770
1540
10
1
Basmallah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
No. Nama Surat Surat Juz Jml. Ayat Ayat Total
 5. Al-Hijr 15 14 99 40 168
إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
Tidak akan ada yang dapat selamat dari penyesatan yang aku (iblis) lakukan kecuali hamba-hamba-Mu yang beribadah dengan ikhlas. Aku tidak mampu menguasai mereka, karena jiwa mereka penuh dengan zikir menyebut asma-Mu. (QS. Al-Hijr/15 : 40 – Tafsir Muhammad Quraish Shihab)
Iblis = 4; Jiwa = 2; Zikir = 7; asma-Mu = 1
1+6+8 = 15 = 6 | Empat (4) angka terakhir = 8156 = PENGHUNI SURGA (the host)

Tabel di atas juga menunjukkan bahwa saya sedang Berguru kepada IBLIS. Bukankah IBLIS (4) itu suka menyesatkan MANUSIA (2)? Bukankah Iblis itu sosok yang curang? Maka dalam hal ini saya pun juga sedang curang: “Kode 1540 itu adalah hasil curang dari total 770 x 2 atau setelah saya total kemudian saya total lagi”. Kemudian kalau misalnya saya lakukan kecurangan lagi, maka 168 bisa saya kalikan 2 sehingga hasilnya 336. Kode ini bisa dibaca: “IMAN (6) itu bisa diperoleh dengan BELAJAR (3) dan BERGURU (3)”. Kode ini bisa kita kaitkan dengan QS. Al-An’aam/6 : 33, pada Juz 7 dan 8, Sejumlah 165 Ayat sebagai berikut:

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ ۖ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَٰكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

Sungguh Kami mengetahui, wahai Muhammad, bahwa tuduhan yang orang-orang kafir katakan itu sangat menyedihkanmu. Jangan bersedih atas hal itu. Karena sebenarnya mereka tidak menuduhmu berbohong. Tetapi, karena aniaya mereka terhadap diri mereka sendiri dan terhadap kebenaran, mereka menjadi keras kepala. Dari itu mereka mengingkari bukti-bukti dan tanda-tanda kebenaran dan kenabianmu. (QS. Al-An’aam/6 : 33 – Tafsir Muhammad Quraish Shihab)

Angka-angka ayat ini jika kita jumlahkan = 165 + (7+8) + 33 + 6 = 219  |  Angka hasil dijumlahkan = 2+1+9 = 12 = 3  |  Empat (4) angka terakhir = 9123 = HAKIKAT ULAMA (the nature of scientists). Mestinya, hakikinya ULAMA / ILMUWAN (9) itu jika ILMUNYA (3) digunakan untuk TUNDUK / PATUH / SUJUD (2) pada SANG PENCIPTA (1). Dan bukan untuk ingkar atau yang lain, misalnya: “Cari duit, pamor dan pamer, kekuasaan, pangkat, jabatan, dan semacamnya. Jika ini yang dicari, maka mereka itu tidak lebih hanya berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri“. 

Kode 9123 ini bisa saya acak sehingga menjadi 1293 = KEINDONESIAAN (tahun lahirnya Majapahit). Saudaraku juga bisa memahami makna tersirat dari kode ini pada artikel Indonesia dan Iblis dalam Al-Qur’an khususnya pada ulasan KASTA di Era Majapahit.

Kembali pada kode 1540 yang terbentuk dari 770 x 2. Bahwa sebenarnya tanpa menggunakan cara curang ini pun kode tersebut tetap saja bisa didapatkan dengan menjumlahkan langsung angka 770 sehingga menjadi 7+7+0 = 14 = 5  | Empat (4) angka terakhir = 0145. Bukankah bilangan ini jika diacak bisa menghasilkan 1540?

Catatan:

  • Alam Semesta dan Para Iblis
    —————
    Iblis (4) bukanlah musuh melainkan kehendak / ilmu (3) Alloh (1) untuk menguji Iman (6) Manusia (2). Angka-angka kode ini jika digabung-urutkan = 12346  |  Dijumlahkan = 1+2+3+4+6 = 16 = 7  |  Tiga (3) angka terakhir = 167 = KESEMPURNAAN ALAM SEMESTA (the perfection of the universe).
    —————
    Jika pengkodean Iblis (4) itu benar dan pengkodean Alam Semesta (8) juga benar, mestinya Alam Semesta ini sangat erat kaitannya dengan kode para Iblis (4). Bukankah 8 itu bisa dihasilkan dari penjumlahan 4+4? Atau bisa ditulis 44 (para Iblis) = 4+4 = 8  |  Tiga (3) angka terakhir = 448. Apabila kode ini kita kaitkan dengan Al-Qur’an bisa menuju kepada QS. Ad-Dukhaan/44 : 8 atau bisa juga terkait QS. Al-Anfaal/8 : 44.
    —————

    • QS. Ad-Dukhaan (Juz 25; Surat ke 44, Sejumlah 59 Ayat)
      —————
      لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ
      —————
      Tidak ada Tuhan yang pantas disembah selain Dia. Hanya Dia yang dapat menghidupkan dan mematikan, dan hanya Dia pulalah yang menciptakan kalian dan nenek moyang kalian dahulu. (QS. Ad-Dukhaan/44 : 8 – Tafsir Muhammad Quraish Shihab)
      —————
      Angka-angka ayat ini = 25 + 44 + 59 + 8 = 136  |  Hasil dijumlahkan = 1+3+6 = 10 = 1  |  Tiga (3) angka terakhir = 101 = KARAKTER DASAR IBLIS (the basic character of the devil). Atau bisa juga diartikan sebagai Hidup (1), Mati (0) dan Hidup (1) kembali. Lihat dan bandingkan terhadap tafsir di atas!
      —————
    • QS. Al-Anfaal (Juz 9, 10; Surat ke 8, Sejumlah 75 Ayat)
      —————
      وَإِذْ يُرِيكُمُوهُمْ إِذِ الْتَقَيْتُمْ فِي أَعْيُنِكُمْ قَلِيلًا وَيُقَلِّلُكُمْ فِي أَعْيُنِهِمْ لِيَقْضِيَ اللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا ۗ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ
      —————
      Perhatikanlah, wahai Rasul, ketika Allah memperlihatkan musuh-musuhmu kepadamu dalam jumlah yang kecil, sebagaimana Allah menampakkan kalian dalam pandangan mereka, juga dalam pasukan yang kecil. Mereka bangga dengan jumlah yang besar. Hal itu dijadikan sedemikian rupa oleh Allah agar jiwa keberanian kalian bertambah besar dalam menghadapi lawan. Sehingga kalian dapat mewujudkan ketetapan ilmu Allah yang pasti terwujud. Kepada Allah akan dikembalikan segala urusan alam semesta. Tidak akan terjadi kecuali apa yang telah ditakdirkan Allah dengan menciptakan sebab musababnya. (QS. Al-Anfaal/8 : 44 – Tafsir Muhammad Quraish Shihab)
      —————
      Angka-angka ayat ini = (9+10) + 8 + 75 + 44 = 146  |  Hasil dijumlahkan = 1+4+6 = 11 = 2  |  Tiga (3) angka terakhir = 112 = Wahai MANUSIA (2), janganlah menyembah TUHAN (1) selain ALLOH (1).
      —————

Kemudian jika kode 448 itu diteruskan perhitungannya = 4+4+8 = 16 = 7  |  Tiga (3) angka terakhir = 167 = KESEMPURNAAN ALAM SEMESTA (the perfection of the universe). Kesempurnaan penciptaan alam semesta oleh Tuhan (1) dalam 2+4 = 6 hari seperti yang bisa Saudaraku lihat pada QS. Fussilat/41 : 9 s/d 12 adalah kewajiban kita untuk mempelajari sekaligus mensyukurinya, berserah diri, sujud / tunduk / patuh kepada-Nya. Kode 167 itu jika kita kaitkan dengan ayat Alloh bisa dicermati pula pada QS. An-Nahl/16 : 7.

QS. An-Nahl (Juz 14, Surat ke 16; Sejumlah 128 Ayat)

وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَىٰ بَلَدٍ لَّمْ تَكُونُوا بَالِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ الْأَنفُسِ ۚ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Binatang-binatang tersebut membawa barang-barang kalian yang berat ke suatu negeri yang tidak bisa kalian capai kecuali dengan susah payah. Sesungguhnya Tuhan yang telah menyediakan semua itu, untuk kenyamanan kalian, Maha Pengasih lagi Mahaluas rahmat-Nya. (QS. An-Nahl/16 : 7 – Tafsir Muhammad Quraish Shihab)

Angka-angka ayat ini = 14 + 16 + 128 + 7 = 165 | Hasil dijumlahkan = 1+6+5 = 12 = 3 | Tiga (3) angka terakhir = 123 = KETUHANAN (godliness). Apakah ini hanya kebetulan saja? Surah An-Nahl ini dinamakan pula “An-Ni’am” artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

  • Wasiat dan Ajaran Syekh Amongraga
    —————
    ”Syekh Amongraga adalah salah seorang pewaris ajaran Syekh Siti Jenar pada masa Sultan Agung Hanyokusumo (1645). Mengenai rincian kehidupan dan ajaran Syekh Amongraga dapat dibaca di serat Centini”. Syekh Amongraga mewasiatkan berbagai inti ajaran yang meliputi (Primbon Sabda Sasmaya; hlm. 24):
    —————

    1. Rahayu ing Budhi (selamat akhlak dan moral);
    2. Mencegah dan berlebihnya makanan;
    3. Sedikit tidur;
    4. Sabar dan tawakal dalam hati;
    5. Menerima segala kehendak dan takdir Tuhan;
    6. Selalu mensyukuri takdir Tuhan;
    7. Mengasihi fakir dan miskin;
    8. Menolong orang yang kesusahan;
    9. Memberi makan kepada orang yang lapar;
    10. Memberi pakaian kepada orang yang telanjang;
    11. Memberikan payung kepada orang yang kehujanan;
    12. Memberikan tudung kepada orang yang kepanasan;
    13. Memberikan minum kepada orang yang haus;
    14. Memberikan tongkat penunjuk kepada orang yang buta;
    15. Menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat;
    16. Menyadarkan orang yang lupa;
    17. Membenarkan ilmu dan laku orang yang salah;
    18. Mengasihi dan memuliakan tamu;
    19. Memberikan maaf kepada kesalahan dan dosa sanak-kandung, saudara, dan semua manusia;
    20. Jangan merasa benar, jangan merasa pintar dalam segala hal, jangan merasa memiliki, merasalah bahwa semua itu hanya titipan dari Tuhan yang membuat bumi dan langit, jadi manusia itu hanyalah sudarma (memanfaatkan dengan baik dengan tujuan dan cara yang baik pula) saja. Pakailah budi, syukur, sabar, menerima, dan rela.
      —————
      Dalam memahami 20 ajaran tersebut, hendaknya jangan terjebak dalam segi kontekstualnya saja, namun hendaknya diselami dengan segenap nalar dan rasa batin.
      —————
      Sumber: http://mahabbahdalamilmutasawuf.blogspot.co.id/2013/08/tentang-allah-tauhid-dan-manunggaling.html
      ————–
      Perhatikan ajaran yang saya tandai dengan warna merah. Kiranya tidak banyak yang bisa memahami ajaran tersebut termasuk saya. Namun dengan bantuan pemahaman terhadap sifat / karakter angka, menurut pendapat saya bahwa ajaran yang berbunyi “Membenarkan ilmu dan laku orang yang salah” ini bisa disetarakan dengan kode 1324 / 1234 / 4123. Sebab ajaran tersebut memiliki empat (4) kata kunci sebagai berikut:

      • BENAR / HAQ = 1;
      • ILMU dan LAKU = 3;
      • ORANG / HAMBA = 2;
      • SALAH / GELAP = 4;
        —————

Mengakhiri tulisan ini tidak ada salahnya jika kita coba ikuti pemikiran Saudara Yudi N. Ihsan dalam https://misteridunia.wordpress.com/ yang telah saya edit sebagai berikut:

Salah satu keistimewaan al-Qur’an adalah memungkinkan penafsirannya yang terus berkembang dan selalu up to date. Salah satu contohnya adalah yang terdapat di dalam surat Ar-Ra’d/13 : 15. Ayat tersebut menjelaskan adanya “Man” di langit dan di Bumi. Lalu siapakah yang dimaksud “Man” di dalam ayat ini?

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُم بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

(Hanya kepada Allahlah sujud segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri) seperti orang-orang yang beriman (atau pun terpaksa) seperti orang-orang munafik dan orang-orang yang dipaksa dengan kekerasan (dan) sujud pula (bayang-bayangnya di waktu pagi) pada pagi hari (dan petang hari) sore hari. (QS. Ar-Ra’d/13 : 15 – Tafsir Jalalayn)

Pertanyaan Saudara kita Yudi N. Ihsan tersebut bisa dijawab secara jelas dalam makna tersirat melalui angka-angka ayat, bahwa yang dimaksud “Man” dalam cara pandang saya adalah: “Makhluk yaitu RUH / JIWA (2) dengan segala macam PROBLEMATIKA (4) yang melekat padanya”. Bukankah surat tersebut ada di Juz 13 sejumlah 43 Ayat?

Maka makna tersiratnya = 43 + 13 + 15 + 13 = 84  |  Angka hasil dijumlahkan 8+4 = 12 = 3  |  Empat (4) angka terakhir = 4123. Kode ini bisa saya baca: “Keberadaan MAKHLUK (24) dengan segala tabiatnya itu adalah perwujudan ILMU (3) ALLOH (1) bukan yang lain”. Dalam pembahasan ini dapat dimengerti bahwa perbuatan SUJUD SENDIRINYA (2) atau pun TERPAKSA / DIPAKSA (4), bahwa semuanya itu pada hakikatnya adalah KEHENDAK (3) ALLOH (1) semata. Bukankah jika 4123 angka-angkanya dijumlahkan = 4+1+2+3 = 10 = 1 = ALLOH?

Referensi:

  1. http://penaraka.blogspot.co.id/2012/04/pengertian-agama.html
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Agama
  3. http://kkcdn-static.kaskus.co.id/images/2013/05/18/3091380_20130518085638.jpg
  4. https://obatsakittelapakkaki.files.wordpress.com/2014/12/00000000000000000000000000000botox-foot-628×363.jpg
  5. https://ulamak.wordpress.com/2015/12/13/indonesia-dan-iblis-dalam-al-quran/
  6. http://www.mediametafisika.com/2013/10/pengertian-gaib-dalam-terminologi-islam.html
  7. https://hajirikhusyuk.wordpress.com/2009/10/06/makrifatullah/
  8. https://ulamak.wordpress.com/2015/11/24/mensiasati-serangan-iblis/
  9. http://mahabbahdalamilmutasawuf.blogspot.co.id/2013/08/tentang-allah-tauhid-dan-manunggaling.html
  10. https://id.wikipedia.org/wiki/Surah_An-Nahl
  11. https://mutiarazuhud.wordpress.com/tag/ilmunya-meliputi-segala-sesuatu/
  12. http://agus-mustofa.blogspot.co.id/2010/07/hubungan-4-anasir-apiamarah.html
  13. https://drive.google.com/file/d/0B1puzXftLZn0dmFmOWVsSllkWWM/view?usp=sharing
  14. https://id.wikipedia.org/wiki/Kehendak_Tuhan
  15. https://ms.wikipedia.org/wiki/Sujud
  16. https://andikanatasurya.wordpress.com/daftar-artikel/7-tingkatan-surga-dan-neraka-muslim-masuk/
  17. http://pustakaaslikan.blogspot.co.id/2012/08/fiqih-shalat.html
  18. https://cahyaimancahayakebenaranislam.wordpress.com/2013/11/21/dialog-muslim-cara-tepat-penulisan-in-sha-allah-%D8%A7%D9%86-%D8%B4%D8%A7%D8%A1-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87/
  19. https://ulamak.wordpress.com/2015/11/10/berguru-kepada-iblis/
  20. https://cesckid.wordpress.com/2011/01/16/kata-sujud-dalam-al-quran/
  21. https://www.instagram.com/p/-xEedSErn5/
  22. https://misteridunia.wordpress.com/2012/05/13/petunjuk-al-quran-tentang-makhluk-berakal-di-luar-planet-bumi/

والله أعلمُ بالـصـواب

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: